Oleh Labai Korok
Padang, andalasnewss.com, Seandai Pemerintah Indonesia berpihak pada rakyat, maka kasus rampok uang program MBG yang dicintai Prabowo-Gibran oleh pejabatnya tidak akan terjadi. Keputusan BBM naik tengah malam tidak akan terjadi. Serta kebijakan Dewan terkesan mengembalikan kekuasaan polisi, tentara seperti era orde baru tidak akan terjadi.
Pertanyaannya mengapa semua kebijakan Pemerintah Indonesia, tidak nampak berpihak pada rakyat saat ini. Perlu dipahami, dimana rakyat sedang kesusahan akibat tekanan ekonomi semakin tinggi dan belum ada solusi saat ini.
Begitu juga Pemerintah Daerah dan Propinsi belum juga memperlihatkan keberpihakan pada rakyatnya seperti pimpinan daerah baik eksekutif maupun legislatif tetap berlomba-lomba menikmati jabatan, membeli fasilitas pribadi dengan pengadaan baru semua melalui uang pajak rakyat. Disini tidak nampak juga keberpihakan pada rakyat.
Kondisi diuraikan diatas hanya gerakan mahasiswa yang bisa menjawab keadaan ini, mahasiswa harus membela rakyat dengan kembali mengingatkan para penguasa pusat dan daerah bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat, jangan dikianati.
Saat penulis di kampus UGM ternyatan aktivisnya sudah melakukan pembelaan itu dengan ada kegiatan aksi mahasiswa UGM untuk teguran pada presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran.
Kegiatan itu mengusung tema spesifik bertajuk "Pemakaman Hati Prabowo-Gibran" sebagai bentuk protes mahasiswa. Peserta aksi menyatakan gerakan ini merupakan ekspresi keresahan kolektif terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dalam pertunjukan tersebut, boneka yang melambangkan pemimpin negara diperlakukan secara simbolis melalui beberapa tahapan prosesi. Boneka tersebut awalnya digantung, diarak oleh peserta, hingga akhirnya dibakar di tengah kerumunan massa aksi.
Secara filosofis, penggantungan boneka dimaknai sebagai representasi penderitaan dan kematian rakyat atas kondisi nasional terkini. Tahap selanjutnya adalah pemakaman yang menggambarkan matinya hati nurani pemerintah, di mana narasi aksi menyebutkan bahwa tanah menolak jasad tersebut.
Prosesi terakhir ditutup dengan aksi pembakaran atau kremasi simbolik boneka. Sisa abu hasil pembakaran kemudian ditempatkan ke dalam ompreng sebagai bentuk kritik tajam terhadap kebijakan program Makan Bergizi Gratis.
Aksi atau kegiatan aktivis mahasiswan UGM ini memiliki suasana lain dalam menyampaikan pesan pada penguasa dan pemerintah pusat dimana saat ini mereka sedang membela rakyat yang sedang kesusahan dan terimpit oleh tekanan ekonomi melalui BBM Naik, Harga-harga mulai naik.
Semoga aktivis kampus lain di Indonesia meniru kreatifitas aktivis mahasiswa UGM ini, mahasiswa harus bela rakyat dan Indonesia harus diselamatkan dari kehancuran.(***)

Social Plugin