Lubuk Alung, andalasnewss.com. Seperti yang diberitakan beberapa waktu lalu oleh salah satu media Online di Kota Padang, perihal bobrok nya pelayanan di Rumah Sakit Paru Provinsi Sumatera Barat, yang tepatnya berad di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, serta kejangalan lainya yang memicu pro dan kontra dikalangan masyarakat dan pihak kesehatan.
Salah satu, yang menarik perhatian adalah tentang meninggalnya salah seorang pasien yang bernama Zaharuddin, yang dikarenakan jauhnya akses dari ruang perawatan kelokasi yang semestinya dekat dengan korban agar bisa dapat pertolongan dengan cepat, kemudian perihal tentang Ventilator dan Defribilator, juga adanya pembangunan ruangan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, selanjutnya tidak diterimanya lagi uang makan untuk para karyawan di Rumah Sakit Paru tersebut, serta yang terakhir mengenai pembelian alat kesehatan yang tidak sesuai dengan SOP yang seharusnya.
Dengan adanya kemelut dilungkungan Rumah Sakit Paru Provinsi Sumbar tersebut, andalasnewss.com. melakukan investigasi kusus yang lansung berhadapan dengan Plt. Direktur Rs Paru Lubuk Alung, Heri Chandarman, dalam kesempatan tersebut, Erik, sapaan akrab sang Plt Direktur Rs Paru Sumbar, mengatakan, untuk pasien yang menungal hanya terjadi miskomunikasi atau kitidak Pahaman sebab semua yang disangkakan sebenarnya telah melalui prosedur yang pantas, namun yang namanya ajal hanya allah yang tahu, ujar Erik kepada andalasnewss.com.
Kemudian untuk Ventilator, mesin medis yang berfungsi sebagai alat bantu napas untuk menggantikan atau menunjang sebagian fungsi pernapasan. alat tersebut ada, dan hanya ditempatkan diruangab yang lain, begitu juga dengan Dedribilator, alat kejut jantung, semua peralatan itu ada dan lengkap di Rs Paru ini, tambah Erik.
Sementara itu, tentang tidak dibayrkanya uang makan pagi para karyawan rumah sakit, dijelaskan Heri Chandarman, semua karena keterbatasan anggaran, namun kami tetap memberikan dalam bentuk susu dan bahan pokok lainya. Kemudian untuk ruangan yang kami rehap, disini kami jelaskan, bahwa ruangan yang aksesnya, jauh dari kamar mandi dan Wc tersebut bukanlah ruangan yang sebenarnya Kusus untuk pasien, namun ruangan tersebut kami sulap menjadi ruangan inap. karena kami disini belum mempunyai ruangan inap yang devinitif, maka untuk sementara kami jadikan ruangan tersebut sebagai ruangan rawat inap, nah sudah pasti kami belum bisa menyediakan kamar mandi dan Wc, dalam per kamarnya, namun sekarang ruangan tersebut telah kami rehap dan jadikan ruangan rawat inap yang devinitif dan telah tersedia kamar mandi dan Wc di ruangan tersebut.
Dan yang terakhir, mengenai pembelian alat alat kesehatan, semuanya atas usulan dari bawah dulu melalui Kasubag Tu, dan selanjutnya baru diusulkan ke direktur dan kalau memang peralatan tersebut sifatnya sangat dibutuhkan, maka disepaka tilah bersama dengan Dokter dan pihak Rumah Sakit untuk pembelian alat tersebut, namun disini terjadi miskomunikasi lagi, contohnya, tidak semua harus dokter radiologi USG Portebel untuk pembelian barang dirungan ICU. Makanya usernya penyakit dalam, semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi, dan bagi teman teman media kalau ingin komunikasi dengan pihak rumah sakit, kami sangat welcome dalam hal apapun dan mari bersama sama membangun Rumah Sakit Paru Sumbar, menjadi Icon terbaik di Sumatera nantinya, ujar Heri Chandarman. ( Aca)

Social Plugin