Oleh : Labay Korok Piaman
Padang, andalasnewss.com Setiap tahun ummat Islam selalu mengadakan acara peringatan Isra' Mi'raj, ada yang mengadakan secara besar-besaran dan ada yang mengadakan secara sederhana, kesemua adalah wujud kecintaan ummat Islam pada Nabi Muhammad SAW yang telah melakukan revolusi mental manusia secara total kearah hidupnya yang hakiki.
Sejarah yang Penulis baca Isra’ Mi‘raj sendiri terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Setelah tahun kesedihan (‘āmul ḥuzn), ditolak di Thaif, dan kehilangan para penopang dakwah, Allah subhanahu wata’ala justru memperjalankan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam perjalanan spiritual yang luar biasa.
Sehingga kisah Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa penderitaan tidak pernah luput dari perhatian Allah. Perjalanan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha, lalu menembus langit demi langit, menjadi simbol bahwa doa orang-orang yang terhimpit keadaan tetap memiliki jalan menuju langit.
Bagi manusia yang paham dan yakin dengan Isra' Mi'raj maka lakukanlah revolusi mental secara totalitas dengan jiwa-jiwa ini berserah diri kepada Allah SWT dengan selalu menembus langit seperti kisah Isra' Mi'raj yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Disaat Nabi Muhammad SAW melakukan Isra' Mi'raj tersebut baca yang tidak yakin, pro-kontra terjadi. Sejarah mencatat bahwa keesokan harinya Rasullah SAW menceritakan peristiwa itu kepada penduduk Mekkah. Namun berita ditolak mentah-mentah oleh Abu Jahal dan para pengikutnya. Mereka justru menertawakan Rasululah dan mengolok-oloknya. Menurut mereka, perjalanan Nabi di malam hari itu tidak masuk akal. Sebaliknya, ada manusia cerdas seperti Abu Bakar yang bisa menerima kebenaran peristiwa itu tanpa banyak berpikir dan ragu.
Dengan tegas ia mengatakan “Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu.” Atas keyakinannya yang teguh itu Abu Bakar kemudian diberi gelar al-Shiddiq yang berarti orang yang jujur dalam keimanan.
Sekarang saatnya Isra' Mi'raj tersebut dijadikan panduan hidup untuk revolusi mental totalitas, disaat kehidupan di Sumatera Barat dalam lingkungan bencana ekologis yang tidak pernah dialami sebelumnya.
Maka Isra’ Mi‘raj juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab ekologis. Sebagian bencana tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi diperparah oleh kerusakan lingkungan dan tata ruang yang abai.
Sebaiknya Kita umat Islam Sumatera Barat yakin dengan prinsip sebab dan akibat, tidak akan datang suatu kejadian alam, kalau tidak seizin Allah SWT, maka Isra' Mi'raj adalah contoh nyata yang Kita ambil hikmahnya.
Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsha di al-Quds, Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah naiknya Rasulullah SAW menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak bisa dijangkau oleh semua makhluk, malaikat, jin dan manusia. Dan perjalanan itu berlangsung hanya semalam (Said Muhammad Ramadhan al-Buthy, Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyah, Kairo: Dar al-Salam, 2012, hlm. 108).

Social Plugin